Biosolar B30

Minyak bumi merupakan sumber energi yang paling banyak dipakai di Indonesia, terutama untuk transportasi. Akan tetapi, minyak bumi merupakan salah satu sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui. Karena itu, diperlukan sumber energi alternatif untuk menggantikannya. Salah satu sumber energi alternatif yang kini dikembangkan yaitu biosolar. Biosolar adalah bahan bakar minyak alternatif yang berasal dari tumbuhan. Bio solar merupakan kandidat terbaik untuk menggantikan bahan bakar minyak bumi yang berasal dari fosil. Tidak seperti minyak sayur, yang sama-sama berasal dari tumbuhan, biosolar melalui proses pengolahan dengan cara yang berbeda. Dari cara pengolahan dan bahan yang berbeda inilah bahan bakar ini memiliki sifat pembakaran yang mirip dengan solar (diesel). Hal ini diharapkan dapat digunakan sebagai sumber energi alternatif  menggantikan diesel.

Biosolar dapat dibuat dari tumbuh-tumbuhan atau bahan nabati. Bahan nabati yang dapat digunakan yaitu berupa buah atau biji tanaman, seperti :

  • Biji kapuk atau biji pohon randu
  • Kacang tanah
  • Nyamplung
  • Buah kemiri
  • Biji jarak pagar
  • Biji sawit

 

Tanaman-tanaman tersebut adalah tanaman yang mudah tumbuh dan mudah ditemukan di lingkungan sekitar. Biji kapuk dan biji jarak yang selama ini tidak pernah diolah, dapat digunakan sebagai bahan baku biosolar. Karena ketersediaannya di alam yang mudah dikembangbiakkan, diharapkan biosolar dapat menjadi sumber energi terbarukan dan murah.

Perbedaan biosolar dengan solar yang biasa digunakan adalah dari bahan dasar pembuatanya. Solar atau yang dalam bahasa inggris yaitu diesel, terbuat dari bahan dasar fossil (minyak bumi). Sedangkan Biosolar terbuat dari bahan dasar yang berasal dari tumbuhan. Selain itu perbedaan antara keduanya dapat dilihat dari segi;

Perbedaan Biosolar Solar
Kandungan energi Karena terbuat dari tumbuhan, kandungan energi biosolar lebih rendah daripada solar yang berasal dari minyak bumi Kandungan energi 11% lebih banyak dari biosolar
Kadar sulfur Kandungan sulfur jauh lebih rendah dari kadar sulfur pada solar. Hal ini menyebabkan bio solar memiliki kandungan energi eksplosif yang lebih rendah dari solar. Namun, karena kandungan sulfurnya lebih rendah, biosolar cenderung lebih ramah lingkungan karena kadar sulfur yang rendah menghasilkan sedikit karbondioksida. Solar yang memiliki kadar sulfur yang tinggi, maka solar menghasilkan banyak karbondioksida. Oleh, sebab itu solar tergolong sebagai salah satu penyebab polusi udara.
Kekuatan proses oksidasi Dikarenakan biosolar memilki kadar sulfur yang jauh lebih rendah, maka proses oksidasi dalam biosolar pun cenderung lemah. Tidak hanya itu, proses oksidasi yang lemah juga cenderung dapat mengakibatkan penyumbatan pada bagian-bagian mesin. Sebagai sumber energi alternatif, biosolar tidak sepenuhnya sempurna sebagai bahan bakar utama. Karena memiliki kadar sulfur yang tinggi, proses oksidasi yang terjadi lebih kuat dibanding biosolar sehingga lebih efektif saat pembakaran dan tidak menyumbat mesin.

 

BIOSOLAR B30

Pemerintah Indonesia mulai menginisiasi penggunaan bio solar B30 sebagai program pengadaan energi alternatif bahan bakar solar. Bio solar B30 merupakan hasil pencampuran solar dengan minyak nabati yang berasal dari minyak kelapa sawit atau Crude Palm Oil (CPO). Bahan bakar ini memiliki komposisi perbandingan 30% bahan nabati dan 70% bahan solar. Sebelum bercampur dengan solar, minyak kelapa sawit bereaksi terlebih dahulu dengan methanol dan ethanol dengan katalisator NaOH atau KOH untuk menghasilkan fatty acid methyl ester (FAME). FAME adalah proses transesterifikasi lipid dengan tujuan untuk mengubah minyak dasar menjadi ester sekaligus membuang asam lemak bebas. Menurut WCO (World Customs Organization), FAME merupakan campuran mono-alkil dari produksi biodiesel senyawa ester rantai panjang asam lemak yang berasal dari tumbuhan atau hewan.

Selain terbarukan, FAME juga biodegradable sehingga ramah lingkungan. Selain itu, jelaga hasil pembakarannya lebih rendah dari pada solar dan juga angka cetane yang lebih tinggi dari pada petroleum solar. Biosolar B30 juga memiliki kandungan energi yang hampir sama dengan energi solar (diesel).  Dengan adanya aturan pemerintah terkait produksi dan penggunaan Bio solar B30 , maka tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan ketahanan dan kemandirian sumber daya energi yang ada di Indonesia, sekaligus juga bertujuan untuk mengangkat nilai jual industri kelapa sawit. Tidak hanya itu, Bio solar B30 menghasilkan zat hasil pembuangan yang relatif lebih bersih sehingga dapat mengurangi emisi karbon. Sebagai tambahan, unsur FAME yang bersifat detergency mampu membersihkan mesin-mesin kendaraan dengan lebih baik daripada bahan bakar BBM. Dengan demikian, diharapkan penggunaan minyak bumi sebagai satu – satunya sumber energi dapat semakin dikurangi sembari melakukan riset untuk menemukan sumber energi alternatif lainnya.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*