Cerita Dongeng; Aku Tak Berbunyi “Tokeek…”

Halo sahabat semua. kali ini saya mencoba berbagi tentang dongeng. dongeng ini bersumber dari buku ” Kisah-Kisah dari sarang”. kami sebagai admin mohon ijin untuk berbagi dongeng ini, semoga dongeng juga bermanfaat bagi rekan-rekan semua. Donegng Fabel ini berjudul Aku Tak Berbunyi “Tokeek…”. dongeng ini bisa digunakan untuk pembelajaran Bahasa Indonesia langsung saja kita simak bersama dongeng Fabel berikut.

Terlihat sebuah kepanikan dan kesibukan yang tak henti- hentinya di rumah keluarga tokek hari ini. Sang Ibu terlihat gelisah dan tak sabar menunggu tiga butir telurnya yang akan segera menetaskan bayi-bayi tokek.

Hari ini adalah tepat satu bulan telur itu berada di tengah tumpukan papan di atap sebuah rumah. Sang Ibu merasa sangat bahagia karena ini adalah pertama kali baginya, dan Sang Ayah pun merasakan kebahagiaan yang sama.

Sebuah perjuangan yang tidak mudah bagi mereka dalam menjaga ketiga telur itu. Setiap pagi dan malam, mereka harus memastikan bahwa telur-telur itu tidak rusak dan selalu dalam keadaan hangat. Bukan hanya Sang Ibu dan Sang Ayah saja yang cemas dan tak sabar menunggu menetasnya ketiga telur tersebut. Beberapa teman dan kerabat tokek yang lain pun tak sabar menantikan peristiwa yang mendebarkan itu.

Setelah menunggu dengan penuh kecemasan dan keantusiasan, terdengar suara retakan dari salah satu telur. Sang Ibu pun menjerit kegirangan.

“Ayah, lihat! Ada yang menetas!”

“Wah, Betul, Bu! Kira-kira laki-laki atau perempuan, ya? “ Sang Ayah yang penasaran pun tak sanggup menahan perasaan bahagianya.

Tak lama setelah terdengarnya retakan kecil, menyusul beberapa retakan berikutnya yang lebih keras. Setengah bagian dari telur yang retak itu kini sudah benar-benar pecah.

“Yah, kau lihat itu! Anak pertama kita akan segera muncul!” Sang Ibu terlihat tak sabar menanti kemunculan bayi tokek pertamanya.

“Cangkang telurnya sudah mulai habis, Bu. Sebentar lagi kita akan melihatnya.”

Pelan tapi pasti, bayi tokek itu akhirnya menghancurkan semua cangkang telur yang melingkupinya. Akhirnya, badan mungil yang masih terlihat merah dan rapuh itu melihat dunia.

“Wah, selamat! Dia perempuan!” teriak salah satu kerabat.

Sang Ibu, Sang Ayah, dan semua keluarga tokek menyambut gembira kelahiran bayi tokek perempuan itu. Setelah telur pertama menetas, terdengarlah bunyi retakan dari telur kedua dan telur ketiga. Telur kedua terlihat lebih cepat menetas daripada telur ketiga.

Seekor bayi tokek muncul dari telur kedua. Namun keluarga tokek yang menyaksikan peristiwa itu sedikit kecewa, karena ternyata bayi tokek kedua itu pun juga perempuan. Akhirnya, mereka hanya bisa berharap bahwa telur ketiga adalah laki-laki.

Sekarang giliran cangkang telur ketiga yang retak dan terlepas satu demi satu. Sedikit demi sedikit, muncullah bayi ketiga.

“Ibu, dia laki-laki!” teriak Sang Ayah menyambut dengan girang.

“Iya, Ayah. Akhirnya, mereka semua sudah menetas. Aku bahagia sekali!” Sang Ibu Tokek bahagia dan terharu melihat ketiga bayi tokeknya terlahir ke dunia dengan sempurna.

Sang Ibu dan Sang Ayah membesarkan ketiga anak tokeknya dengan baik. mereka selalu rajin berburu serangga untuk memberi makan anak-anaknya. Kasih sayang yang diberikan dengan melimpah membuat ketiga anak tokek itu tumbuh dengan baik.

Sampai pada suatu hari, Sang Ibu mendapati bahwa anak ketiganya yang laki-laki tak bisa bicara dan berbunyi “tokeek”.

“Ayah, ini sudah lebih dari dua bulan, tapi anak laki-laki kita tidak bisa bicara dan berbunyi “tokeek” layaknya tokek jantan pada umumnya. Jika seperti itu, bagaimana dia nanti akan menarik perhatian lawan jenisnya?  Bagaimana dia akan mendapatkan pasangan ketika sudah dewasa nanti? Oh, Ayah… Aku tak sanggup membayangkannya! Apa yang harus kita lakukan?” Sang Ibu Tokek tak kuasa menahan air mata dan kesedihannya.

“Aku juga tak tahu harus bagaimana, Bu. Belum pernah ada kejadian pejantan yang tidak bisa berbunyi “tokeek”. Walau bagaimanapun, kita harus sabar dan tetap membesarkannya dengan baik.”

“Lalu, apa yang harus kita lakukan ketika dia dewasa nanti, Ayah?” Sang Ibu berusaha tabah. Namun matanya masih berkaca-kaca.

“Aku yakin, pasti ada maksud di balik semua ini, Bu.” Sang Ayah pun mendekap Sang Ibu yang masih menangisi keadaan anak laki-lakinya.

Dengan penuh kesabaran dan rasa syukur, Sang Ibu dan Sang Ayah membesarkan ketiga anak tokeknya hingga mereka menginjak dewasa.

Malangnya, Si Tokek yang tak berbunyi seringkali mendapat ejekan, bahkan dari kedua kakak perempuannya sendiri. Para tokek jantan lainnya kerap menjulukinya ‘betina’ karena tak bisa berbunyi “tokeek”. Ketika kedua kakak perempuannya mulai mendapatkan pasangan, tak ada satu pun tokek betina yang mau mendekatinya karena dianggap tidak jantan.

Pada suatu malam, Si Tokek Tak Berbunyi sedang berburu serangga di sebuah pohon. Tiba-tiba terlihat seekor nyamuk yang sedang terbang ke arahnya. Segera ia mempersiapkan lidahnya yang panjang, bersiap-siap untuk menangkap Si Nyamuk. Ketika ia menjulurkan lidahnya, tiba-tiba saja SiNyamuk jatuh tak berdaya, terhempas ke bawah. Melihat kejadian itu, dengan sigap Si Tokek Tak Berbunyi berjalan menuruni pohon dan menangkap nyamuk tersebut dengan lidahnya. Alangkah terkejut Si Tokek ketika mendapati ternyata salah satu sayap Si Nyamuk  patah.

“Tolong, jangan makan aku! Aku hampir mati terkena tepukan manusia,” pintanya pada Si Tokek.

Si Tokek yang tak bisa bicara hanya diam dan menghentikan niatnya untuk memangsa Si Nyamuk.

“Jika kau memakanku, aku tak akan bisa berburu darah, dan anakku akan mati karena tak bisa menghisap darah dari tubuhku yang aku berikan padanya.” Dengan nafas tersengal, Si Nyamuk mencoba menjelaskan kepada Si Tokek.

Si Tokek hanya bisa menganggukkan kepalanya tanpa bisa mengatakan apapun kepada Si Nyamuk. Akhirnya Si Nyamuk pun mulai menyadari sesuatu tentang Si Tokek.

“Aku tak mengerti mengapa kau hanya diam saja seperti itu. Tapi bolehkah aku mohon pertolonganmu untuk

membawaku pulang ke sarangku? Aku benar-benar tidak bisa terbang dengan sayap yang terluka…”

Dengan rasa iba, akhirnya Si Tokek Tak Berbunyi pun membantu Si Nyamuk pulang ke sarangnya dengan tetap menaruhnya di atas lidahnya. Si Tokek berjalan merayap dengan cepat menuju sarang Si Nyamuk. Dengan nafas yang berat dan satu sayap yang telah patah, Si Nyamuk masih berusaha berbicara untuk menunjukkan jalan menuju sarangnya.

 

Setelah beberapa waktu, sampailah Si Tokek di perkampungan Si Nyamuk. Para gerombolan nyamuk yang lain terlihat takut melihat kehadiran seekor tokek di perkampungan mereka.

Dengan nafas yang hampir habis karena berlari, sampailah Si Tokek di sarang Si Nyamuk. Si Tokek membaringkan tubuh Si Nyamuk di sebuah selimut tipis dan di sana lah dia melihat anak Si Nyamuk yang terlihat sakit dan butuh pertolongan.

“Terima kasih, wahai Tokek, karena kau tidak memakanku. Terlebih lagi, kau pun telah menyelamatkanku,” ujar Si Nyamuk kepada Si Tokek.

Si Tokek hanya bisa menganggukkan kepala dan ekornya untuk menjawab.

“Apa kau tak bisa berbicara? Pastinya pun kau tak bisa menjawabku bukan? Hahaha…” goda Si Nyamuk.

Si Tokek hanya bisa tersenyum dan mengibaskan ekornya. Sejak saat itu mereka sering bertemu satu sama lain. Si

Tokek kerap mengunjungi rumah Si Nyamuk untuk membantu menyembuhkan sayapnya yang patah atau sekedar mengobrol, yang tentu saja hanya bisa dilakukan oleh Si Nyamuk. Si Tokek yang merasa tak mendapatkan teman di kalangannya sendiri pun mulai menemukan teman baru dan tak lagi merasa kesepian menjalani hari-harinya. Nyamuk-nyamuk yang lain pun mulai bisa menerima kehadiran Si Tokek dan tak lagi menganggapnya sebagai ancaman seperti sebelumnya.

Si Tokek pun seringkali menyaksikan dan menikmati pertunjukan yang diadakan di perkampungan Si Nyamuk,

— sebuah pertunjukan istimewa yang tak bisa dia saksikan di kalangannya sendiri. Para nyamuk yang berjumlah ribuan bergerombol bergerak teratur kesana-kemari layaknya pertunjukan teater. Pertunjukan itu pun diiringi dengingan sayap mereka yang nadanya mirip sebuah lagu merdu. Mereka bersatu, bergerak kompak, dan membentuk berbagai formasi menyerupai badan manusia, kupu-kupu, bahkan sebuah pohon. Si Tokek yang selama ini tak bisa bicara menjadi girang dan sangat menikmati pertunjukan para nyamuk. Ia tertawa-tawa senang.

Seiring berjalannya waktu, luka pada sayap Si Nyamuk pun berhasil pulih. Sayap yang sebelumnya patah mulai tumbuh sedikit demi sedikit berkat bantuan teman-teman yang telaten merawatnya. Sebagai rasa terima kasihnya kepada Si Tokek, Si Nyamuk pun berencana memberikan sesuatu yang berharga kepada Si Tokek.

“Aku mungkin tidak bisa berbuat banyak untukmu. Aku sangat berterima kasih atas apa yang kau lakukan untuk menyelamatkanku. Oleh karena itu, aku memberimu sebuah sayap yang indah dari rangkaian sayap-sayap nyamuk untuk dikenakan di ekormu. Saat ekormu bergerak, sayap- sayap ini akan mengembang dan mengeluarkan bunyi yang indah. Ketika berada di bawah sinar atau cahaya, sayap ini akan menyala dan berwarna kehijauan. Kuharap berguna untukmu.”

Si Tokek sangat senang dan segera mencoba sayap buatan itu di ekornya. Ketika dia menggerakkan ekornya, Si Tokek semakin terkagum-kagum.

Hari-hari pun berlalu, namun pertemanan Si Tokek dan Si Nyamuk terus berjalan. Dengan sayap buatan Si Nyamuk, Si Tokek Tak Berbunyi banyak dipuji dan dikagumi kalangannya sendiri. Sang Ibu, Sang Ayah, dan kedua kakak perempuan Si Tokek pun semakin menyayanginya. Berkat bantuan sayap buatan itu, Si Tokek yang tak bisa berbunyi “tokeek” mulai bisa menarik perhatian lawan jenisnya dan mendapatkan pasangan. Semua keluarga tokek hidup bahagia dalam waktu yang tak ditentukan.

Sumber : Kisah-Kisah dari sarang

penulis : @RimaYP

author
No Response

Leave a reply "Cerita Dongeng; Aku Tak Berbunyi “Tokeek…”"